1. Fellicia
Wanita itu duduk termangu disana seperti terhenti oleh waktu. Raganya yang rapuh seakan dikekang oleh dimensi. Semilir angin seolah tak mampu menyapa tatkala mata hitam oval itu terus memandangi rerumputan yang bergoyang pelan. Angannya entah siapa yang mengerti jalan yang dituju sukma nya saat ini. Tangan kanan putih nan halusnya yang kini tertutup sarung tangan hitam yang tipis terus memegangi dagu seolah menyampaikan opini pada khalayak ramai bahwa ia tengah mengarungi samudera masa lalunya. Buku yang ia pegang dengan tangan kirinya seolah berbisik kepadaku bahwa ia sedang ‘kosong’ hampa dan entah mengapa seperti bukan dirinya.
Fellicia, wanita itu bernama Fellicia. Orang yang periang, ramah dan terkadang banyak bicara, namun hari ini ia seperti berlainan dengan kebiasaan dan menentang opini selama ini tentang sifatnya. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya yang terhalang oleh cadar hitamnya. Aku tau itu, bibirnya tengah mengunci dan enggan untuk berkata. Senja yang menerpa wajahku seolah tiada, kalah dengan fokus mataku memandanginya. Sudut pandangku seolah terhimpit oleh sinus dan cosinus keingintahuan ku tentang pribadinya.
Lama aku berdiri memandanginya, seolah waktu tak berharga saat aku memandanginya. Bukan nafsu yang timbul akibat kecantikannya, namun rasa keingin tahuanku tentang apa yang membuatnya berbeda dari Fellicia sebelumnya. Perempuan itu kini tersadar dari lamunannya dan kini ia mulai menutup bukunya dengan pelan seraya memejamkan mata dan menghirup udara sore taman yang segar.
Perempuan itu kini beranjak pergi dari tempatnya semula, meninggalkanku dalam keheningan sejati. Membuatku tak sadar jika jingga telah surut dan adzan mulai berkumandang. Petang berlalu dan malam membayang, menjadi saksi akan lantunan dzikir yang terucap dari balik tembok-tembok mushola. Malam itu bima sakti terlihat jelas menaburi semesta. Memberi isyarat akan keagungan Sang Pencipta. Kulihat sekilas kearah teras rumah Fellicia, terlihat kini ia melepas cadarnya dan mulai membaca buku favoritnya.
Pandanganku seolah teralihkan mendengar sayup-sayup melodi gitar, setelah aku menoleh kembali kearah teras kudapati ia telah beranjak dari tempat semula. Setelah kudengar lantunan Kitab Suci dari rumahnya, aku tak tahu lagi apa yang sedang terjadi di dalam karena rumahnya begitu sunyi dan hanya terdengar suara televisi. Kulangkahkan kaki dan beranjak pergi untuk menikmati suasana malam hari.
Pagi datang dengan memburu, seoalah berlomba dengan suara kokokan ayam jantan. Saat itu sinar kuning keputih-putihan mulai menggores langit biru diatas cakrawala dan kudapati dedaunan jatuh tertiup angin musim kemarau yang membawa harapan dan perasaanku padanya. Seolah aku tahu yang ia pikirkan, kami berjumpa dipersimpangan jalan, dan kami hanya menyapa seperti biasanya. Aku tahu dia wanita hebat, yang sudah mulai beres-beres rumah dari pagi hingga waktu dhuha.

